"In a Revolution"

Epilepsi pada Wanita Hamil

In Medical Sciences on May 8, 2011 at 6:57 pm

Artikel ini saya buat spesial buat pak Felix Xia yang sudah memberikan umpan balik positif untuk artikel saya sebelumnya dan saya sudah berjanji akan menuliskan artikel khusus mengenai epilepsi pada wanita hamil.

        Saya akan melanjutkan kembali pembahasan mengenai epilepsi, tetapi kali ini adalah berhubungan dengan ibu hamil. Apakah efeknya pada wanita hamil? Bagaimana tatalaksananya? Mari saya akan berbagi semua di sini mengenai itu semua!

Dampak Epilepsi vs Terapi Epilepsi terhadap Kehamilan

Menurut statistik Amerika Serikat, 0.5% kehamilan dijumpai pada wanita epilepsi. Risiko pada wanita epilepsi yang hamil lebih besar dari pada wanita normal yang hamil. Angka kematian neonatus (bayi baru lahir) pada pasien epilepsi yang hamil adalah tiga kali dibandingkan populasi normal.

Sedangkan dari hampir 12.000 perempuan di Amerika Serikat mengalami kehamilan saat menjalani terapi dengan obat antiepilepsi (OAE). Kurang lebih 6% bayi yang dilahirkan oleh ibu yamg mendapat terapi OAE tersebut

mengalami cacat bawaan baik secara anatomis maupun fisiologis.

        Pengaruh kehamilan terhadap epilepsi bervariasi. Kira-kira ¼ kasus frekuensi bangkitan akan meningkat terutama pada trimester terakhir. Seperempatnya lagi menurun dan separuhnya tidak mengalami perubahan selama kehamilan. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Pada wanita hamil terjadi perubahan fisiologis dalam tubuhnya. Salah satunya adalah fungsi ginjalnya meningkat yang ditandai dengan peningkatan creatinine clearance sekitar 50% sehingga akan menurunkan kadar Obat Anti Epilepsi (OAE) dalam sirkulasi darah yang akhirnya meningkatkan kebutuhan OAE. Selain itu, hormon esterogen bersifat epileptogenik. Hormon ini terus meningkat selama kehamilan dan mencapai puncaknya pada trimester ketiga. Hal inilah yang menyebabkan frekuensi bangkitan pada epilepsi menjadi meningkat terutama pada trimester terakhir.

Lalu apakah dampaknya terhadap kehamilan? Bangkitan selama kehamilan meningkatkan risiko outcome kehamilan yang merugikan. Bangkitan pada trimester pertama diketahui meningkatkan risiko malformasi kongenital pada keturunan 12,3% berbanding 4% dengan anak yang terpapar dengan bangkitan maternal pada waktu yang lain. Bangkitan umum tonik-klonik meningkatkan risiko hipoksia dan asidosis dan juga cedera karena trauma benda tumpul. Peneliti dari Kanada menemukan bahwa bangkitan maternal selama kehamilan meningkatkan risiko keterlambatan perkembangan. Meski jarang terjadi, status epileptikus dapat menyebabkan tingkat mortalias yang tinggi bagi ibu dan anak. Di dalam sebuah penelitian terhadap 29 kasus yang dilaporkan, 9 ibu dan 14 anak meninggal selama atau sesaat setelah episode status epileptikus. Anak dari seorang perempuan yang memiliki tiga kali bangkitan tonik klonik umum selama kehamilannya dapat menyebabkan perdarahan intraserebral.

Apa dampak Obat Anti Epilepsi pada ibu hamil? Paling umum dampak pada wanita hamil dengan epilepsi adalah potensial teratogenesis pada OAE.  Dampak teratogenik diklasifikasikan sebagai malformasi mayor atau anomali minor dan keduanya yang berhubungan dengan penggunaan OAE. Suatu malformasi mayor adalah suatu abnormalitas yang ada pada saat lahir yang dapat memerlukan penanganan bedah. Malformasi mayor yang mungkin adalah kelainan jantung kongenital, defek urogenital, neural tube defect, dan sumbing. Anomali minor misalnya dismorfisme wajah dan anomali jari.

Namun, menurut American Academy of Neurology tahun 2009, dikatakan bahwa mengkonsumsi OAE tidak menyebabkan kesulitan-kesulitan saat kehamilan. Seperti misalnya adanya bukti yang baik bahwa OAE tidak menjadi risiko tinggi untuk perdarahan selama kehamilan. Juga dikatakan risiko untuk terjadinya proses persalinan Caesar dan persalinan dini tidak cukup tinggi. Tidak cukup bukti yang mengatakan bahwa OAE berhubungan dengan peningkatan tekanan darah pada kehamilan. Namun, perlu hati-hati jika Anda tidak dapat menghindari lebih dari satu OAE saat kehamilan! Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa penggunaan Asam Valproat multidrug bisa menyebabkan cacat lahir sehingga dilarang untuk mengkonsumsi Asam Valproat khususnya pada trimester pertama.

Bagaimana Tatalaksana Epilepsi pada Wanita Hamil?

Begitu hamil, seorang wanita dengan epilepsi yang diberikan OAE harus diikuti oleh seorang ahli kandungan. Seorang ahli kandungan berisiko tinggi atau spesialis fetal maternal dipilih meskipun tidak selalu mungkin. Wanita hamil harus diperiksa serologis dan USGnya pada trimester pertama untuk menentukan adanya risiko neural tube defect.

Sepanjang kehamilan, pemantauan level OAE akan menolong untuk mengendalikan kejang. Farmakokinetik OAE dipengaruhi perubahan fisiologis kehamilan. Sepanjang kehamilan, aliran darah ginjal dan filtrasi glomerular meningkat sebagai suatu fungsi peningkatan curah jantung dan volume plasma, cairan ekstravaskular (luar pembuluh darah) dan jaringan lemak meningkat untuk menciptakan distribusi volume lebih besar. Level serum albumin menurun, yang mana menurunkan pengikatan obat, meningkatkan fraksi bebas, dan meningkatkan drug clearance. Farmakokinetik dapat mempengaruhi konsentrasi OAE dan paling penting untuk OAE adalah ikatan protein tinggi, metabolisasi secara hepatik (melalui hati) atau dibersihkan secara renal (melalui ginjal). OAE dengan ikatan protein tinggi dalam jumlah total dan jumlah yang bebas, termasuk untuk fenitoin dan valproat harus dimonitor.

Vitamin K profilaksis direkomendasikan pada saat beberapa minggu akhir kehamilan, dimulai kira-kira minggu ke-36. Insidens perdarahan pada bayi baru lahir dilaporkan meningkat pada anak yang terpapar OAE selama kehamilan khususnya OAE yang merangsang sistem enzim sitokrom P450. OAE yang merangsang enzim sitokrom P450 adalah fenobarbital, primidon, fenitoin, karbamazepin merangsang enzim mikrosom fetal yang mendegradasi vitamin K.

American Academy of Neurology dan American Academy of Pediatrics memperbolehkan wanita dengan epilepsi yang mengkonsumsi OAE untuk menyusui. Sepanjang menyusui bayi, bagaimanapun juga akan terpapar OAE pada konsentrasi OAE yang diberikan. Jika ibu menerima ethosuximid, fenobarbital, atau pirimidon memilih menyusui, mereka harus dilatih untuk memantau anaknya untuk tanda-tanda sedasi dan letargi. Pada laporan-laporan kasus, fenitoin, karbamazepin, dan valproat mungkin aman. OAE ini tidak ditransfer ke anak melalui ASI pada konsentrasi yang sama pada ibu.   

Kesimpulan

        Sekarang ini seorang wanita yang memiliki epilepsi tidak lagi dilarang untuk hamil dan melahirkan anak. Tidak mengkonsumsi obat-obat anti epilepsi bukan merupakan solusi yang baik karena jika ibu mengalami bangkitan selama kehamilan juga berefek buruk bagi janin. Oleh sebab itu, dibutuhkan kerjasama dari pasien-pasien ini untuk secara rutin kontrol kehamilan untuk melihat perkembangan janin akibat obat-obat anti epilepsi yang dikonsumsi.

Ditulis oleh Catherine Maname Uli

Daftar Pustaka

  1. Manajemen Epilepsi pada Kehamilan. Available from the URL: http://journal.uii.ac.id/index.php/JKKI/article/viewFile/547/471
  2. Clinical Management of Pregnant Women with Epilepsy.  Available from the URL : http://www.medscape.com/viewarticle/530483
  3. Women with Epilepsy: Drug Risks and Safety during Pregnancy. Available from the URL : http://www.aan.com/practice/guideline/uploads/338.pdf
  1. perawatan epilepsi yg plg umum dengan fenitoin (dilantin) dan obat2 segolongan memiliki banyak manifestasi oral…
    Sbagian besar berefek tidak diinginkan pd jaringan ginggiva dan periodontal….
    olh krn itu dibutuhkan perawatan multi disiplin untuk pengobatan scr holistik….

  2. Ya, dalam hubungannya terhadap kesehatan gigi secara tidak langsung juga ada komplikasi yang disebabkan penggunaan obat fenitoin.

    Terima kasih atas sharing ilmunya saudara Dedy.
    Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.
    Salam kenal.🙂

  3. terimakasih atas infonya. istri ketahuan hamil saat janin usia 6 minggu, dan rekomendasi dr syaraf di ganti dengan KBZ yang sebelumnya IKALEP. apa yang harus dilakukan istri selama treemester ke dua dan selanjutnya????

    • Rajin kontrol kehamilan saja pak, terutama USG untuk melihat kondisi janinnya masih dalam keadaan baik.

      Paling urgent itu di trimester pertama karena itu masa2 pembentukan organ tubuh pada janin.

      Terima kasih pak sudah berkunjung ke blog saya.

  4. maaf mau konfirmasi, ibu sering menulis kata bangkitan, artinya apa ya apa ya pak, kalau saya baca seluruh artikel saya menyimpulkan, bahwa pengaruh pada bayi lebih dominan bisa disebabkan oleh pemberian obat, bukan karena epilepsinya,benar ga bu?

    • Bangkitan itu artinya saat terjadinya kejang.

      Saya ini kan membahas cuma dari sisi obat2 saja yang berefek buruk untuk janin.

      Kalau kejangnya si ibu bisa menyebabkan :
      1. trauma abdomen (Janin di dalam rahim terbentur karena goncangan saat kejang)
      2. gangguan suplai oksigen sehingga mengganggu fungsi otak dan organ2 lain janin.

      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: