"In a Revolution"

Tuhan Para Imaji

In Uncategorized on November 3, 2010 at 11:04 pm

Namaku Sophie, akulah tuhan yang menciptakan Sheela, dan Hohkma. Ketika Sheela tercipta, Sophie adalah Sheela. Ketika Hohkma tercipta, Sophie adalah Hohkma.

Tiada kesadaran bahwa aku adalah Sophie, tuhan Sheela, dan Hohkma.

 

Karena “Aku adalah tuhan dari para imaji yang tercipta dalam kesadaranmu.”

 

“Welcome to MANIPULATION of MIND of MINE.”

 

* * *

Aku adalah seorang mahasiswi Kedokteran yang cukup ternama di negaraku. Hanya orang-orang berprestasi yang dapat diterima masuk di kampusku ini. Itu menurut pandangan hampir semua masyarakat, setidaknya guru SMAku adalah salah seorang yang mempercayai hal itu. Oleh sebab itu beliau tidak percaya bahwa aku bisa diterima di sini.

 

YAHHH.. mungkin ada benarnya juga pandangan guru SMAku karena aku memang bukan siswa teladan atau berprestasi yang setidaknya mendapatkan peringkat selama di SMA. Bahkan bisa dibilang prestasiku agak rendah karena aku adalah salah satu siswa yang hobi mengikuti remedial di kelas.

 

Begitu juga saat aku berada dalam posisi sebagai mahasiswa tidak ada satupun prestasi atau nilai yang bisa dibanggakan. Mengenai pergaulan juga tidak ada yang istimewa, aku bukanlah si “miss populer” yang dikenal oleh seantero kampus. Smuanya BIASA SAJA..

 

 

Tuhan aku hanyalah seorang mahasiswa biasa:

Ketika mereka datang dari kastil megah negeri khayangan,

aku hanya titisan tikus kecil dari selokan seberang kastil.

Ketika mereka hanya menyerakkan lembaran-lembaran merah ke tanah,

aku hanya berharap sangat dapat memungut satu demi satu lembaran merah itu.

Ketika mereka berkumpul, bersatu padu dalam kelompok A+,

aku hanya dipojokkan dalam kelompok E-.

Ketika mereka bahu-membahu membangun proyek kejayaan, Menara Babel,

aku hanya disingkirkan ke tepi jalan, dipaksa puas menatap menara keangkuhan mereka.

Ketika mereka menganggap dapat menciptakan raksasa,

aku hanya dianggap dapat diciptakan menjadi kutil raksasa.

 

Jam kosong. Aku pergi bersama teman-temanku untuk beristirahat sejenak setelah melalui jam demi jam kuliah yang sangat padat dan melelahkan. Tidak ada sesuatu hal yang seru untuk diperbincangkan saat itu. Kami hanya membuat lelucon-lelucon untuk refreshing, kemudian tanpa kusadari datanglah seorang teman seangkatanku memberitahukan sesuatu yang kelihatannya sangat penting.

 

“Sophie, kamu sudah melihat pengumuman yang baru ditempel?” tanyanya.

 

“Belum kawan. Memangnya ada sesuatu yang penting?” tanyaku.

 

“Namamu tertera di kertas pengumuman itu, Sophie. Kamu dan beberapa teman seangkatan kita dipanggil wakil dekan I.”

 

“Kenapa dipanggil?” tanyaku keheranan.

 

“Aku tidak tahu Sophie. sebaiknya kamu baca sendiri pengumuman itu.”

 

 

Akupun segera berlari meninggalkannya ke tempat pengumuman tersebut ditempel.

 

“Kenapa aku dipanggil? Beribu-ribu kali pertanyaan itu kulontarkan di dalam hati.

 

“Apakah ini berhubungan dengan masalah akademis?”

“Apakah ini berhubungan dengan masalah keuangan?”

“Apakah?

“Apakah?

“Apakah?

Hanya “apakah?” yang kupertanyakan saat ini.

 

 

Sampailah aku di depan papan pengumuman. Ternyata hanya ada beberapa orang yang berkerumun di situ. Sepertinya belum banyak yang mengetahui keberadaan pengumuman ini.

YA..ini adalah pengumuman yang keluar mendadak di siang bolong. Namun, bagi kami mahasiswa di sini itu bukanlah hal aneh karena memang para pejabat kampus kami sering melakukan hal scara mendadak. Kami tidak tahu apa maksud mereka, mungkin mereka adalah orang-orang yang senang memberi kejutan kepada para mahasiswanya? Masa bodolah..

 

Ada sesuatu yang agak membingungkan dari pengumuman ini. Ternyata yang dipanggil menghadap bukanlah hanya mereka-mereka yang memiliki masalah akademis, karena nama Felicia juga tertera di situ. IPKnya sudah pasti di atas 3. Begitu juga masalah keuangan rasa-rasanya hampir tidak mungkin.

 

“Ada apa gerangan?”

[Kenangan 7 tahun silam]

 

“Nanti setelah pulang sekolah kamu jangan ke mana-mana ya! Langsung pulang, istirahat, kemudian bangun langsung kerjakan PR”

 

“Iya mama.” jawab anak itu.

 

“Anak yang manis..”

“Anak yang patuh..”

“Anak yang malang..”

 

“Kamu siapa? Apakah aku pernah mengenalmu?” tanya anak pada suara itu.

 

“Aku Sheela. Ya, tentu saja kamu mengenalku. Kita bahkan pernah akrab satu sama lain.”

 

“Sheela. Ah, ya aku ingat sekarang! Kita memang pernah akrab. Namun, itu bukan berarti karena hubungan kita telah hancur. Aku sedang tidak membutuhkan kamu belakangan ini, tetapi sepertinya dalam waktu dekat kamu akan kubutuhkan kembali.”

* * *

 

“Anak-anak semua harus duduk yang manis ya! Lipat tangannya semua. Coba semuanya lihat Sophie dia sudah bisa duduk yang rapi, kenapa yang lain tidak bisa?”

 

“Sophie, kamu harus ikuti perintahku. Kamu harus masuk sekolah dengan memanjat pagar. Yang lain boleh lewat pintu. Kalo ga mau kamu aku tonjok ya nanti pulang sekolah!”

“Eh, awas lu ga kasih contekan ke gw trus lapor ke bu guru. Nanti pas istirahat liat aja gw apain lu!”

“Anak yang manis..”

“Anak yang patuh..”

“Anak yang malang..”

*Hanya bisa menangis sedih, tanpa berani berbuat apa-apa.*

“Salomo, kamu selalu aja ga ngerjain PR. Kamu tuh sebenarnya pintar cuma males!”

“Ah, Salomo kasihan sekali dirimu. Namun, jujur aku kagum karena kamu berani bertindak sesuai kebebasanmu walaupun kebebasanmu tidak pernah berkenan di hati para guru.”

“Aku ingin memperoleh kebebasanku.”

“Aku

ingin

sekali..

ingin seperti Salomo”

[Kenangan 10 tahun silam]

 

“Oh, Tuhan Maha Kuasa yang ada di atas sana aku berdoa padaMu.

Apakah Engkau tahu bahwa aku sedang menangis di sini?

Apakah aku boleh menumpahkan isi hatiku kepadamu?

Aku selalu jadi anak manis,

aku selalu jadi anak patuh,

tatapi aku selalu jadi anak malang.

Aku anak manis yang selalu ditindas.

Aku anak patuh yang terkekang.”

“Bisakah aku memperoleh kebebasanku ya Tuhan seperti temanku, Salomo?”

 

 

“Jangan menangis sayang!

Kamu bukan anak yang malang.”

 

“Kamu siapa?”

 

“Aku Swara.

Swara yang selalu tinggal bersamamu.”

 

“Apakah aku mengenalmu?”

 

“Kamu tentu tidak mengenalku. Namun, aku sangat mengenal dirimu.”

 

“Baiklah, kalau kamu sangat mengenal diriku ada satu pertanyaan untukmu: Apakah aku bisa memperoleh kebebasanku seperti temanku, Salomo?”

 

“Tentu saja sayang!”

 

“Kenapa kamu sangat yakin? Aku saja sangat tidak yakin bahwa diriku bisa memperoleh kebebasanku.”

 

“Tentu saja aku sangat yakin karena ada 1 hal yang sama sekali belum kamu ketahui.

Sadarkah hai engkau yang berada di alam sadar sana

bahwa engkau

adalah

pencipta,

tuhan

para

imaji?”

 

“Apa maksudmu hai, Swara?”

 

“Kalau kamu ingin tahu yang kumaksud,

mari sini..

ikuti aku..

masuk bersamaku

ke dalam alamku,

alam bawah sadar.

* * *

 

“Setiap nama mahasiswa yang tercantum di bawah ini harap menemui Wakil Dekan I di atas jam 12.”

 

“Ada apa gerangan?

[Jam 11]

 

“Hai, Sophie kamu tidak ikut pertemuan itu?” tanya temanku.

 

“Pertemuan apa?

 

“Pertemuan mengenai pengumuman tadi.” jawabnya.

 

“Bukannya dikatakan bertemu jam 12?”

 

“Aku tidak tahu Sophie, tetapi beberapa teman kita yang juga dipanggil masuk ke ruang K103. Katanya, mereka memang dipanggil untuk itu, tetapi tidak tahu siapa yang memanggil.”

 

 

Kuketuk pintu.

Kuberanikan diri untuk masuk.

 

 

 

“Hai, saya Ferryana Sanjaya.” sambil tersenyum.

 

“Saya Sophie.”

 

“Silahkan duduk!” sambutnya dengan ramah.

 

Akupun duduk kemudian dia menceritakan identitasnya dan “program surprise” itu.

 

 

“Sungguh cantik dan ramah dirimu.

Namun, aku tak butuh itu,

karena yang kubutuhkan hanyalah

P E N J E L A S A N…”

 

Tidak ada yang bisa kudapatkan maksud dan tujuan “program surprise” itu. Akhirnya kumemutuskan untuk mendengar lagi penjelasan dari Wakil Dekan I.

 

“Untuk apakah “program surprise” ini ditujukan hanya kepada kami, dok?” tanya temanku, Felicia.

 

“Ini lebih mengarah untuk pengembangan diri.”

 

“Mengapa hanya kami yang dipilih dok? Pemilihan ini berdasarkan apa? IPKkah? IPKku >3 loh dok.” sahut Felicia tidak sabar dengan jawaban-jawaban menggantung yang diberikan.

 

“Hmm.. yang jelas ini berguna sekali untuk kalian.” jawab pemimpinku itu dalam mengakhiri pembicaraan.

 

 

 

“Berguna?

Yah..mungkin sangat berguna.

Namun, apakah kami tidak boleh tahu tujuan semua ini jika dianggap berguna bagi kami?

Apakah yang selama ini diajarkan kepada kami untuk melakukan inform consent tidak berlaku untuk kami?

Mengapa?

Mengapa?

Mengapa?

Sungguh absurd.”

 

 

 

“Supaya kita sukses dalam pergaulan kita harus mempunyai kemampuan adaptasi yang baik. Mulai kenali tipe-tipe manusia dan berusahalah bertindak seperti yang diinginkan agar orang itu senang kepada kita.”

 

Hari ini adalah hari pertamaku mengikuti kelas “program surprise” ini. Yah, sebenarnya aku mengikutinya dengan senang hati karena dari awal aku sudah negative thinking dengan program ini. Namun, kupikir daripada aku langsung pulang lebih baik aku mengikuti kelas ini. Setidaknya lebih baik bersama teman-teman daripada sendirian bengong di rumah. Sebenarnya aku malas sekali mendengar kuliahnya, akhirnya aku terpikir untuk menjebaknya dengan suatu pertanyaan.

 

“Berusaha bertindak seperti yang diinginkan agar orang itu senang kepada kita? Bukankah itu sama artinya bahwa kita memakai topeng untuk menutupi kekurangan kita?”

 

“Hmm. sebenarnya saya lebih setuju bahwa itu disebut sebagai tindakan adaptasi kita terhadap setiap orang.”

 

“Beradaptasi? Bukankah memakai topeng itu berarti berpura-pura?”

 

Wajahnya pun berubah. Aku tahu bahwa ia bingung sekali menjawabnya. Aku sangat puas melihatnya. Sebenarnya dari reaksinya ini aku tahu dia ingin terlihat bahwa dia baik. Dia sama sekali tidak mau dikritik atau ditentang. Bahkan kalau bisa orang memujinya dan terkagum-kagum dengannya.

 

“Topeng katanya? Dia memakai topeng untuk berusaha menciptakan imaji? Apakah dia tidak tahu bahwa akulah tuhan para imaji?”

“Aku yakin dia pasti tidak tahu.” Akupun tersenyum.

* * *

 

 

 

Ku melangkah mengikuti Swara.

Masuk ke dalam alamnya, alam bawah sadar.

Aku terhenyak, merasa gentar masuk ke sana.

Sungguh mistis alam ini,

tetapi aku merasakan kedamaian.

Kedamaian yang tidak ada di kesadaran sana.

Silentium Mysticum.

“O, shangdi. O, shangdi dimuliakanlah dirimu.”

“Tidak usah takut.” kata Swara menenangkanku.

 

 

Jujur memang aku kaget sekali dengan yang terjadi di sini. Tiba-tiba saja dari keheningan ini terdengar suara-suara dan semua orang berlutut seperti menyembahku.

 

 

“Kamu lihat sendiri kan bagaimana mereka semua memperlakukanmu? Jadi, apakah kamu percaya dengan perkataanku bahwa kamu adalah tuhan?”

“Apakah aku harus percaya dengan semua yang kulihat ini? Bahkan aku sangat tidak yakin bahwa semua ini nyata.”

 

Kemudian aku punya ide untuk menantang mereka membuktikan bahwa semua yang mereka katakan adalah benar. Aku sangat yakin mereka pasti tidak mungkin bisa membuktikannya.

 

 

“Baiklah kalau kalian bisa membuktikannya padaku, aku akan percaya dengan kalian.” kataku sambil tersenyum puas membayangkan wajah mereka ketika semua hal itu tidak bisa dibuktikan.

 

“Katamu akulah tuhan para imaji. Kalau begitu beritahu aku bagaimana caranya agar aku bisa membuktikannya?”

 

“Oke. Sekarang aku tanya kamu, apakah kamu benar-benar mau seperti Salomo?”

 

“Ya, itu benar. Aku kagum sekali padanya.”

 

“Apa yang kau kagumi darinya?”

 

“Aku kagum dia bisa memperoleh kebebasannya.”

 

“Seperti apa kebebasan yang kamu inginkan?”

 

“Aku mau mempunyai keberanian untuk melakukan hal-hal yang kuinginkan. Selama ini aku merasa orang-orang yang lebh tua dariku entah itu orangtuaku ataupun guruku selalu memaksa aku untuk melakukan segala sesuatu menurut kehendak mereka. Teman-temanku sering menindasku, dari kecil hidupku selalu dipenuhi ancaman.

Aku ingin bebas seperti yang kuinginkan sendiri, bukan seperti keinginan mereka. Bahkan aku berharap bisa membalas mereka yang menindas diriku. Namun, 1 hal yang lebih penting lagi aku tidak mau terlihat tindakanku konyol. Aku mau tetap disegani walaupun aku membalas mereka, seperti Salomo yang selalu disegani para guru walaupun malas mengerjakan PR.”

 

“Baiklah sekarang pejamkan matamu dan bayangkan hal tersebut. Setelah kamu membayangkannya orang tersebut akan muncul di hadapanmu.”

 

Akupun menuruti saja perkataannya walaupun aku sangat yakin hal itu mustahil. Namun, kurasa tidak ada salahnya mencoba karena tidak rugi juga.

 

 

Pintar sekali dirinya.

Akh, dia juga sangat percaya diri.

Bahkan dia berani menyatakan kebebasannya.

 

Kemudian akupun membuka mata dan suatu keajaiban terjadi. Seorang anak perempuan mirip sekali wajahnya berdiri di hadapanku. Dia sangat terlihat smart dan percaya diri, beda sekali denganku. Aku sangat kagum dengannya, ia persis seperti yang kubayangkan.

 

“Bagaimana? Apakah kamu masih tidak percaya dengan kami? Apakah kamu senang?”

“Ya, aku sangat senang.”

“Bawalah dia bersama dirimu. Kamu bisa menggunakannya kapan saja sesuai keinginanmu. Saya yakin tidak ada seorangpun yang tahu bahwa itu bukanlah dirimu. Kamu akan beri nama siapa, ciptaan pertamamu ini?”

 

“Aku mau beri nama Sheela. Apakah aku memang menggunakannya secara sadar? Maksudnya apakah aku dapat secara sengaja menggunakannya dan sadar akan keberadaannya?”

 

“Tenang saja Sophie. Kamu bukan berkepribadian ganda. Kamu sangat sadar ketika kamu berubah menjadi ciptaanmu. Ingat kamu tuhan pencipta para imaji, bukan penderita gangguan jiwa.” kata Swara sambil tertawa geli.

 

“Ah, baiklah. Terima kasih sudah mau membantuku. Sekarang aku percaya dengan kalian.”

 

“Kami hanya membantumu supaya kamu lebih bisa mengenal diri.”

 

“Baiklah aku sayang sekali dengan kalian. Karena hanya kalian yang bisa membuat diriku terasa berharga. Aku akan balik ke alam kesadaran bersama Sheela. Terima kasih sekali lagi. Bye..”

 

Akupun tersenyum bahagia, tidak bisa membayangkan bahwa diriku yang selama ini kurasa tidak ada apa-apanya ternyata adalah tuhan.

 

 

“Hmm..senangnya menjadi seorang tuhan.” pikirku.

 

“Hai, Sophie hebat sekali dirimu. Kamu dengan berani, dengan percaya diri keluar kelas. Kamu memang berbeda Sophie dari teman-teman, kalau aku pasti jalan ke luar dengan perasaan sangat takut, tetapi kamu sama sekali tidak. Kamu bahkan berani menatap Pak Blessio waktu beliau memarahi kamu.Tatapanmu sungguh mengerikan waktu itu Sophie.” tiba-tiba Diela mengagetkanku.

 

Sungguh mengerikan? Yah, aku suka itu karena akhirnya aku bisa menunjukkan kebebasanku kepada kalian semua. Ya, beberapa jam sebelum ini aku dikeluarkan dari kelas, masalahnya sepele hanya karena ribut di kelas. Sebenarnya aku juga takut seperti yang lain, tetapi di sini aku ingin memperlihatkan bahwa aku punya kebebasan. Kebebasan untuk tidak hidup dalam ancaman.

 

Bukan aku saja yang ribut sebenarnya. Rizky, Lucas, dan Artha juga ribut tetapi kenapa hanya aku yang disuruh keluar? Sekarang pertanyaan yang logis saja, apakah mungkin aku ketawa-ketawa, berbicara dengan suara keras hanya sendirian? Aneh sekali kan guruku itu.

Namun, aku puas bisa memperoleh kebebasanku dan satu lagi yang lebih penting mereka semua tidak tahu bahwa aku adalah tuhan. Mereka tidak sadar bahwa yang mereka lihat itu adalah ciptaanku, Sheela, bukan diriku. Ah, betapa bangganya hatiku sekarang. Terima kasih Swara.

 

“Hai, Sophie jangan melamun terus. Kamu kegeeran ya aku puji, sudah bel nih! Masuk yuk!” kata Diela.

 

Akupun hanya tersenyum.

 

 

 

[Kenangan 6 tahun silam, SMP Merdeka]

 

“Ah,aku bosen nih dengerin bu Augustine menjelaskan. Lebih bagus sih mengajarnya dibandingkan guru-guru yang lain, tetapi suaranya itu terlalu monoton. Aku uda bosen banget.” kataku.

 

“Dasar kamu. Eh, kamu belum bayar uang les. Bayar sini cepetan nanti kamu aku denda loh!” kata Therry sambil bercanda.

 

“Ah, ga mau biar aja pasti nanti kamu yang dimarahi bu Reni kalau belum terkumpul uang-uangnya.” godaku.

 

“Ah, uda cepetan sini bayar aja. Aku tahu kamu pasti uda minta uangnya ke mamamu. Ya kan?”

 

“Ih, belakangku ini berisik amat sih. Ikutan donk!” tiba-tiba Wynn menyeletuk.

 

“Kenapa Wyn bosen ya?” kataku.

 

“Iya,nih bosen banget. Kamu lagi bayar uang les ya?”

 

“Hai, kalian para wanita di belakang! Apa yang kalian kerjakan di sana selama saya menjelaskan?”

 

“Eh, cepet simpan uangnya Ther!” kataku.

 

“Apa itu yang kamu sembunyikan? Cepat tunjukkan segera ke saya!”

 

“Saya tidak mau tahu uang apa ini. Yang jelas kalian melakukan transaksi waktu kelas saya. Saya akan berikan uang ini ke wali kelas kalian. Silahkan ambil di bu Reni.”

 

Dia keluar kelas mungkin langsung mencari bu Reni. Untung saja jam dia tinggal 10 menit. Sebenarnya kalau aku sendiri yang mengalaminya, aku berani mengambil tindakan-tindakan nekat, kan aku punya Sheela sekarang. Masalahnya sekarang ini adalah masalah kami beriga berarti aku tidak bisa mengambil tindakan seenakku saja.

 

Kemudian bu Reni datang dengan suara menggelegar dia teriak:” UANG SIAPA INI???”

 

“Uang saya bu!” sahutku.

 

“Kamu maju sini cepat! Siapa lagi yang berhubungan dengan uang ini silahkan maju. Kata bu Agustin ada 3 orang wanita yang terlibat.”

 

Akhirnya Therry dan Wynn maju juga. Kulihat Wynn sudah mulai terisak-isak.

 

“Ah, maafkan aku Wynn aku tidak bermaksud mengajakmu terlibat terlalu dalam di masalah ini. Namun, bu Augustine memang sangat menyebalkan. Dia bahkan tidak mengetahui keadaan sebenarnya. Menyebalkan sekali rasanya punya guru seperti dia.”

 

“Kalian bertiga ngapain bertransaksi waktu pelajaran Fisika? Kalian pikir guru kalian tidak punya uang Rp100.000,00? Guru kalian ga kere-kere banget kok. Kalian mau pamer ya? Inikan hanya duit orangtua kalian, kenapa harus pamer?”

 

“Duh, sialan bu Augustine! Apa yang sudah dikatakannya ke bu Reni, dia tidak tahu apa-apa tapi berani ngomong macam-macam ke bu Reni.

Awas kau bu Augustine!”

 

 

“Dasar kalian bertiga wanita malam suka bertransaksi yang tidak-tidak.”

 

“Ah, kasar sekali perkataan bu Reni itu. Apa dia bilang?

Kami perempuan malam? Transaksi yang tidak-tidak? Darimana ia bisa menyimpulkannya? Sok tahu sekali!”

 

Kulihat air mata Wynn pun semakin deras mengalir.

 

“Maafkan aku Wynn!”

 

“Sekarang ibu tanya, untuk apa uang ini?”

 

“Untuk bayar uang les bu!” kataku sambil menatap tajam kepadanya.

 

Kulihat mukanya berubah. Sepertinya dia malu sekali sudah berkata-kata kasar ke kami. Dia tidak menyangka bahwa uang itu untuk dirinya juga.

 

“Lain kali jangan bayar waktu pelajaran ya! Bu Augustine tersinggung tuh kalian dianggap tidak menghargainya.” tiba-tiba suaranya melembut.

 

“Iya bu!” sahut kedua temanku ini. Namun aku tidak mau menyahut. Kutatap dia dengan tatapan tajam, penuh kebencian.

 

“aku tidak takut dengan dirimu Bu Reni.

Ingat..

AKU

TIDAK

TAKUT

DENGAN DIRIMU..

Aku punya kebebasan juga.

Akan kubalas kau nanti.

Tunggu saja!”

 

Kemudian Wynn langsung duduk dan suara tangisannya semakin kencang. Sepertinya dia akan membenciku.

 

“Itu semua gara-gara kamu, bu Augustine!”

 

 

[17 Agustus 2002]

Hari ini adalah hari kemerdekaan negaraku. Akupun mengikuti upacara bendera bersama teman-teman. Ternyata pada hari tersebut bu Reni yang menjadi Pembina upacara.

“Pembina upacara memasuki lapangan upacara.”

Setelah pemimpin upacara mempersilahkan Pembina upacara memasuki lapangan upacara, tiba-tiba tubuhku merasakan suatu sensasi yang luar biasa. Aku merasakan tubuh tanpa bobot.

 

Tubuhku melayang,

Ringan..

Dan semakin terasa ringan.

Akupun terbang ke atas,

Dan tiba-tiba saja begitu banyak orang datang kepadaku,

Menyambutku,

Menyembahku..

“O, shangdi. O, shangdi dimuliakanlah dirimu.”

Ternyata aku kembali ke alam ini.. Alam di mana jiwaku menjadi sangat tenteram. Yah.. aku tidak lupa dengan tempat ini!

Di sini aku menjadi seorang tuhan.

Aku ingat pernah menciptakan persona imaji, Sheela.

“Dasar kalian bertiga wanita malam suka bertransaksi yang tidak-tidak.”

“Ah.. mengapa kata-kata kasar tersebut terngiang-ngiang kembali? Aku tidak boleh mendengarnya kembali. Kata-kata itu sungguh menyakitkan. Aku harus buang jauh-jauh dari memori di kepalaku.”

“Dasar kalian bertiga wanita malam suka bertransaksi yang tidak-tidak.”

“ Mengapa masih terdengar perkataan itu?”

“Dasar..

Kalian..

Bertiga..

wanita malam..”

“Ah, tidak.. ternyata aku tidak bisa memusnahkan suara itu. Bagaimana ini?Apa yang harus kulakukan?”

“ Jangan takut Sophie! Kamu tidak perlu bingung bagaimana cara untuk memusnahkannya. Ingat, dirimu adalah seorang tuhan, Sophie!” tiba-tiba terdengar suara lembut Sheela.

“Lihatlah diriku! Aku ini ciptaanmu. Jika kamu bisa menciptakan aku, kamu pasti bisa menciptakan persona imaji yang lain, Sophie!”

“ Ah, bodoh sekali diriku! Benar sekali kata Sheela aku kan seorang tuhan. Mengapa aku tidak mencoba menciptakan persona imaji lain untuk melindungku?”

Kupenjamkan mata.

Kubayangkan sosok gadis remaja

Pemberontak,

yang mampu mengungkapkan ekspresi diri

dalam kemarahan.

 

 

Kubuka kedua mataku dan kulihat ada seorang gadis remaja di depanku. Dari garis mukanya aku dapat menilai bahwa dirinya bertemperamen keras. Iapun tersenyum kepadaku. Kubalas senyumannya dengan senyuman juga.

 

Kemudian akupun bersabda atas dirinya:

“ Mulai sekarang kamu akan dinamakan Hohkma dan kamu akan selalu berada di depanku ketika aku harus menghadapi masalah! Namun, hal yang paling penting adalah kamu dan aku mempunyai target utama yaitu membantuku menghilangkan kata-kata kasar bu Reni sehingga aku tidak perlu mendengarnya terus-menerus.”

 

Aku kembali membuka mata dan ternyata kami sudah berada pada bagian akhir upacara. Acara selanjutnya adalah perlombaan yang diadakan OSIS sekolahku untuk merayakan hari kemerdekaan.

 

* * *

 

” Kepada semua siswa diharapkan turun ke lantai dasar untuk menyaksikan dan berpartisipasi pada semua perlombaan.”

 

“Ah, rasanya diriku malas sekali untuk turun. Aku sama sekali tidak tertarik dengan perlombaan-perlombaan tersebut. Apalagi turun hanya untuk berteriak-teriak di siang bolong untuk menyemangati teman-teman yang lomba. Namun, aku bingung aku harus ngumpet ke mana ya?”

 

Tiba-tiba ada seorang temanku yang berteriak.

“Eh, ada yang mau ikut ke perpus ga? Yuk, ke perpus aja! Gw males banget panas-panasan di lapangan.”

 

“Gw mau donk ikut ke perpus bareng lu.” jawabku dengan semangat.

 

Kemudian sampailah kami ke perpustakaan sekolah kami di lantai III. Akupun mulai mencari-cari buku ensiklopedia karena aku senang sekali membaca buku-buku pengetahuan terutama yang berhubungan dengan luar angkasa.

 

” Ketinggian 100km atau 62mil ditetapkan oleh Federation Aeronautique Internationale. Sedangkan untuk satelit dapat terbang sampai pada lapisan Thermosphere (100km-690km).”

 

Aku membaca terus buku ensiklopedi tersebut dan sambil membayangkan bagaimana satelit tersebut dapat naik terus sampai ke luar angkasa, membayangkan bahwa diriku ada di dalamnya sambil menikmati mungkin saja ada pemandangan-pemandangan indah selama perjalanan luar angkasa.

 

“Melayang..

Aku terbang melayang

di luar angkasa.

 

Sungguh sensasi luar biasa.

Ah, mungkin ini hanya lamunanku saja

karena seingatku tadi aku membaca tentang luar angkasa.

 

Namun, ada sesuatu yang salah di sini.

Mengapa aku berada di suatu ruangan yang begitu megah?

 

Kulihat sekelilingku tampak ruangan ini bukan ruangan biasa.

Ini adalah sebuah istana”, pikirku.

 

“Kami puji namamu, o Shangdi.'”

 

“Hai, mengapa masih melamun saja? Kau terlihat bingung.”

 

Ah, tenyata itu adalah Swara.

 

“Tidak. Tidak ada apa-apa Swara.”

 

“Ada masalah apa lagi sehingga kamu kembali ke sini? Bagaimana kabar persona ciptaanmu?”

 

“Mereka sangat baik padaku, Swara. Sudah ada 2 persona imaji ciptaanku dan sepertinya aku ingin membicarakan masalahku bersama mereka berdua.”

 

“Baiklah, akan kutinggalkan kalian di sini. Jika kalian masih belum mendapatkan solusi jangan segan-segan untuk memanggilku.”

 

 

 

[Ruang Rapat Syamaim]

“Bertekuk lututlah hai semua mahluk, sebab tuhan akan datang ke tempat ini.”

 

Kudengar suara tiupan sangkakala 3x menyambut kedatangan kami. Kemudian disambut dengan pukulan rebana dan tari-tarian.

Sekelompok mahluk elok rupawan terus menari dan menari mengikuti irama rebana sambil menyanyikan kidung:

 

“ADONÂY YEHOVIH..

ADONÂY YEHOVIH..

 

ARYÊH SYÂ’ÂG MÏ LO’ YÏRÂ’ ‘ADONÂY YEHOVIH DIBER MÏ LO’ YINÂVÊ”

 

Akupun masuk ke dalam ruangan tersebut bersama para persona imaji mengikuti mahluk ini.

Kulihat kanan dan kiriku. Semua mahluk bertekuk lutut menyembahku.

 

Kami bertiga duduk mengelilingi sebuah meja berhiaskan batu sapphire.

Kemudian saya memutuskan untuk segera memulai rapat ini.

 

“Saudara-saudaraku terkasih, terima kasih kalian mau hadir bersamaku di sini. Kalian selalu bersedia untuk menolongku.

Sheela dan Hohkma, kalian adalah persona imajiku, kalian adalah bagian dariku karena kalian berasal dariku.

Kalian pasti bisa merasakan apa yang kurasakan termasuk yang kurasakan akhir-akhir ini.

Aku ingin mengetahui pendapat kalian apa yang harus kulakukan untuk menyelesaikan masalah ini.

Kalian tentu tahu apa yang kurasakan. Benar-benar aku selalu merasa bersalah dan merasa kesal karena ada suara yang terus-menerus mengiang-ngiang di telingaku.”

 

” Bagaimana kalau kita beri pelajaran saja untuk bu Reni?” kata Sheela.

 

“Bagaimana caranya?” kataku bingung.

 

“Ah, itu gampang sekali Sophie! Serahkan kepada kami saja! Ketika kami berdua bersatu semua orang akan melihat betapa dahsyatnya diri kita. Ups, maksudnya dirimu. Hahaha..” seru Hohkma dengan seringainya yang khas.

 

“Sepertinya aku harus mencari data-data tentang bu Reni agar segera kuberikan ke Sheela dan Hohkma.”

 

” Pak, boleh tau di mana tempat menyimpan buku-buku tahunan senior?”

 

“Oh, ambil saja di bagian ujung sana.” sahut petugas perpustakaan sekolah.

 

“Baik pak. Terima kasih.”

 

“Ah, ini dia yang kucari-cari.”

Kemudian segera kusimpan data-data tersebut dan aku segera keluar sambil tersenyum-senyum sendiri.

 

“Hai, persona imajiku! Lihatlah apa yang kudapatkan! Sekarang segera beritahu apa yang harus segera kulakukan dengan data-data ini.”

 

“Haha.. sepertinya kau sudah tidak sabaran sekali Sophie. Mari mendekat sini akan kuberitahu apa rencana selanjutnya!” sahut Sheela.

 

* * *

 

“Siapa yang tidak pernah nonton sinetron? Pasti kurasa semua orang Indonesia pernah menontonnya. Selama ini orang-orang sering mencemooh sinetron. Namun, ternyata dari sinetron inilah ide Sheela dan Hohkma muncul.

 

Apakah kalian tahu apa yang dibutuhkan untuk bisa bermain sinetron? Ya, benar sekali. Ada yang dinamakan acting. Ini diperlukan sekali untuk misi ini di mana saya harus bisa memerankan berbagai peran yang bisa dipecaya sama orang-orang yang ada di rumah bu Reni.

 

Maksudnya? Saya akan berbicara dengan pembantunya dan suaminya berusaha memberi kepercayaan kepada mereka bahwa saya adalah orangtua teman anaknya (tentu saja dengan telepon supaya tidak ketahuan). Kemudian ya pengaruhi anaknya. Cukup mudah bukan? Hahaha.. Memang hebat sekali para persona imajiku”

 

* * *

 

 

Hari ini adalah hari pertama masa bakti dekan baru di kampusku. Aku hanya berharap pemimpin yang baru dapat melakukan tugasnya lebih baik dari yang sebelumnya. Pemimpin sebelumnya memang sudah baik, tetapi pasti ada kekurangannya karena semua manusia pasti ada kekurangan.

Namun, ternyata beberapa hari pertama ini ada suatu masalah yang terjadi. Suatu masalah yang cukup meresahkan di antara kalangan mahasiswa. Belum lagi ditambah masalah yang terjadi di angkatanku. Terjadi sikap saling menyalahkan dan menuduh satu sama lain akibat yang beberapa mahasiswa merasa teman-teman satu kelompok diskusinya memiliki sikap “mau menang sendiri”, egois, dll. Sedangkan mahasiswa yang merasa dirinya yang dimaksud merasa kesal dan tersinggung.

Aku sendiri tergolong mahasiswa yang merasakan sikap mereka-mereka yang egois. Namun, aku memilih untuk diam saja paling sesekali tertawa melihat teman-teman yang begitunya semangatnya memonopoli.

 

Rasa kesal ini semakin lama semakin menumpuk bersama masalah lain yang membuat aku ingin segera mengeluarkan kekesalan ini. Belum lagi ditambah masalah baru mengenai pembayaran uang semesteran yang terlalu cepat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Akhirnya, rasa kesal ini tidak bisa ditahan lagi dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Aku mulai protes keras mengenai masalah-masalah tersebut. Ah, tidak! Sebenarnya bukan aku yang melakukan hal itu. Aku, Sheela, dan Hohkma sudah berunding mengenai hal ini. Mengetahui bahwa rencana ini akan dilakukan, aku langsung mundur ketakutan. Namun, ada diri Hohkma yang sudah marah besar dan tidak bisa dilarang lagi karena ada jiwa pemberontaknya. Akhirnya Hohkmalah yang maju untuk melakukannya dengan gagah berani.

 

* * *

Inilah kisahku. Mungkin aku bukanlah orang hebat seperti dirimu yang selalu dipuja-puja orang lain karena terlihat cantik/ganteng, terlihat sangat hebat, atau terlihat sangat baik. Aku memang tidak mendapatkan kebahagiaan sepertimu di kehidupan ini. Namun, aku rasa aku cukup merasa berbahagia bisa bertemu Swara di alam bawah sadar sana di mana dia menyadarkanku bahwa diriku adalah tuhan para imaji.

Akulah tuhan yang menciptakan persona Sheela dan Hohkma.

 

Swara..

terima kasih atas pertolonganmu padaku.

 

* * *


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: