"In a Revolution"

Pada Mulanya Adalah Kehampaan, Akankah Ini Terjadi Selamanya?

In My Life Stories on September 24, 2009 at 10:32 am

“ Kalau begini ingin sekali rasanya aku hidup dalam kesendirian; bergulat dan bergumul sendirian. Namun, kurasa hal itu hampir-hampir mustahil karena aku harus berjumpa denganmu, kalian, dia, dan mereka. Sehingga mau tidak mau aku harus peduli dengan dirimu dan dirinya dan di situlah hal yang paling menyakitkan; peduli tetapi tidak pernah dipedulikan, mencoba merangkul tetapi tidak pernah merasakan rangkulan..

Sulit rasanya berada di pertengahan jalan seperti ini, aku memang harus MEMILIH.”

Seorang tuhan,

yang hanya dimuliakan di alam bawah sadar sana


Sudah lama aku berusaha keluar dari sebuah pintu yang menuju kepada kehampaan. Kehampaan dari alam ini dihuni berjuta-juta bahkan bemilyar-milyar mahluk yang kata orang hidup melalui kesadaran. Hidup itu sendiri apakah diukur hanya dari bisa bernafas dan bergerak saja sehingga mahluk-mahluk yang menganggap dirinya sangat sempurna dibandingkan yang lain ini begitu dingin sampai bisa membekukan yang ada di sekitarnya? Apakah mahluk-mahluk ini hanya berpikir bahwa hidup ini tidak lebih dari pemenuhan inner desire (id) semata?

Perlu kalian ketahui bahwa bangunan kehampaan ini dibangun atas suatu fondasi yang kuat, yang dinamakan loneliness. Ada dua tingkatan dalam bangunan ini, pada tingkatan pertama kalian bisa melihat ada sbuah tulisan di sana yang tergantung dalam sebuah bingkai kehidupan yang bagus di sana:

Loneliness does not come from having no people about one, but from being unable to communicate to others the things that seem important to oneself.” Jung.

Namun, jika kalian naik ke tingkat di atasnya tidak ada satupun yang dapat kalian jumpai di sana. Seluruh bagian terlihat kosong menggambarkan emptiness, menguatkan kesan bahwa ini adalah benar-benar bangunan kehampaan.

Setiap mahluk yang merasa dirinya manusia pasti tidak mampu melawan kodratnya sebagai mahluk sosial. Semua ingin berada sejauh-jauhnya dari bangunan kehampaan. Semua memiliki keinginan untuk didengarkan, dihargai, diperhatikan, dan disayangi. Semua ingin berbagi masalah dan kebahagiaannya kepada orang lain. Semuanya termasuk aku.

Aku telah mengatakan dengan jujur dan sangat blak-blakan kepada beberapa orang bahwa aku sangat membutuhkannya. Aku benar-benar seperti berteriak minta tolong: “Tolong kasihani aku! Aku butuh telinga untuk mendengarkan keluh-kesahku. Aku butuh tangan untuk merangkulku ketika aku sangat rapuh.” Aku menceritakan segala yang terjadi pada masa hidupku yang dulu dengan harapan aku mendapatkan secuil saja pengharapan dari orang lain untuk diriku.

Namun, aku ternyata salah. Memang mungkin saja ceritaku menorehkan rasa kasihan di dalam hati mereka, tetapi sepertinya hal itu hanya berakhir sampai rasa kasihan itu saja, tidak lebih. Mereka semua tetap hanya menonjolkan id semata.

Aku sama sekali tidak menyalahkan siapa saja termasuk diriku. Memang hal yang paling menyakitkan menurutku adalah pengharapan yang terlalu berlebihan kepada orang lain. Berharap dengan aku menceritakan semua tentang masa laluku, kekuranganku, dan keinginanku aku akan mendapatkan apa yang kubutuhkan. Benar-benar sangat menyakitkan. Ini dapat diibaratkan seperti sebuah tangki yang sudah sangat kering dan sangat berharap dengan menceritakan segalanya ada orang yang mau berbelaskasihan mengisi tangki ini.

Yah, mau bagaimana lagi? Setiap manusia berhak menentukan hidupnya sendiri. Aku tidak bisa memaksa siapapun juga untuk mengisi tangkiku ini. Akhirnya aku berpikir memang setiap masalah hanya diriku saja yang dapat merasakannya. Hanya diriku saja yang dapat merasakan emosinya dan ekspresinya untuk menangis. Begitu juga dengan kebahagiaan, keinginan, dan sukacita hanya diri sendiri saja yang begitu peduli untuk menciptakan suatu luapan emosi dan ekspresi.

Ketika aku harus menerima kenyataan pahit ini, aku tetap tidak ingin masuk ke bangunan kehampaan itu. Aku sendiri telah memutuskan untuk mencoba menjajaki alam baru di bawah sadar sana bersama Swara yang telah memperkenalkan terlebih dahulu alam ini kepadaku karena hanya di alam inilah diriku dimuliakan sebagai seorang tuhan. 3-4 orang di sana memuliakanku lebih baik daripada bermilyar-milyar mahluk di kesadaran sana yang mungkin tidak hidup. Walaupun aku berpikir mungkinkah 3-4 orang ini sebenarnya 1? Entahlah, aku tidak peduli.

7 jam, 7 hari, 7 bulan, 7 tahun, atau mungkinkah sampai selamanya ini akan terjadi?

by: Catherine Maname Uli

  1. Hi Catherine, excellent blog you have right here! I am wondering which year of study you are currently in now. By the way, I am currently waiting to enrol for medical school next year and like you, an Indonesian as well.

  2. thx suf. Actually I have a big dream to develop a medical journal website on the next time. So, I start from making a blog firstly while learn how to organize a website. In your opinion is it an impossible thing?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: