"In a Revolution"

Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia

In Anthropology on November 10, 2008 at 11:48 am

sumpahpemuda

Tanggal 28 Oktober merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia karena 80 tahun yang lalu para pemuda Indonesia telah mengikrarkan suatu sumpah yang dikenal dengan istilah Sumpah Pemuda. Para pemuda merasakan pentingnya menjalin persatuan dan kesatuan di antara kalangan Indonesia. Baiklah kali ini saya akan membahas salah satu isi Sumpah Pemuda, yaitu: “Kami bangsa Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.

 

 

 

Teks Sumpah Pemuda

 

Apakah Bangsa Itu?

Arti kata bangsa menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah kelompok orang yang mempunyai asal keturunan yang sama, mempunyai sejarah pemerintahan sendiri. Lalu, apakah bedanya dengan kata Negara? Negara adalah organisasi dalam suatu wilayah tertentu yang diatur oleh kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat. Kesimpulan perbedaan arti dari kedua kata ini adalah sebagai berikut: Indonesia sebagai negara adalah “warisan kolonial” (product of colonial legacy). Teritorial, administrasi, sistem hukum (walaupun sekarang banyak diubah) Indonesia adalah produk dan kelanjutan dari pemerintahan kolonial Belanda. Sementara bangsa sangat berbeda dari negara. Bangsa Indonesia adalah baru, bukan hasil bentukan Belanda, sekalipun kelahirannya dipengaruhi oleh kolonialisme Belanda. Mentalitas birokrasi, cara memerintah, sistem administrasi, dll, semuanya adalah warisan kolonial. Itu adalah contoh dari pendapat Anderson. Selain itu menurut Anderson, Indonesia adalah suatu nation state yang dianggap sebagai suatu imajinasi. Maksudnya adalah kenyataan di dalam “nation state” terdapat komunitas dalam kemajemukan (heterogeneity) dan perbedaan (diversity).

Berdasarkan pernyataan Anderson mengenai konsep nation state sebagai imajinasi, saya ingin membahas mengenai aplikasi-aplikasi dari konsep tersebut yang sesuai dengan keadaan sosial masyarakat Indonesia.

Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan kebudayaan Nasional. Indonesia berasal dari kata indo dan nesia (‘nesia’ yang ‘indo’) adalah bahasa kemempelaian yang bersanak-saudara banyak. Artinya, bahasa Indonesia terbentuk, kemudian dibentuk, di atas wilayah bahasa Melayu sebagai bagian bahasa-bahasa Austronesia, yakni melalui pelbagai perlintasan suku, sukubangsa, bangsa, dan ras yang silih berganti mendatangi Negara ini.

Oleh sebab itu untuk dapat mempelajari bahasa Indonesia kita perlu mempelajari aspek kebudayaan dan psikologi masyarakat Indonesia yang berkaitan dengan bahasa Indonesia. Jika Anda sekedar mengetahui bahasa Indonesia tanpa berusaha memahami bahasa Indonesia, apakah bedanya Anda dengan orang asing yang mempelajari bahasa Indonesia?

Menurut prediksi Dosen Ilmu Budaya Unhas bahasa Thai-Kadai berkongnat dengan bahasa Indonesia (Melayu). Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan Paul Benedict. Istilah Kadai menurut Benedict adalah rumpun bahasa yang meliputi empat buah bahasa. Dua di antaranya bahasa Laqua dan Lati terdapat di wilayah perbatasan Cina-Vietnam, bahasa Kelao di Cina Tengah bagian Selatan, dan bahasa Li (Muslim) di pulau Hainan. Keempat bahasa tersebut mempunyai persamaan struktur dengan bahasa Indonesia dan bahasa Thai kecuali ada beberapa ciri yang mirip bahasa Cina seperti dominasi bentuk monosilabik dan intonasi. Dalam hal yang menyangkut kosakata, baik kata benda, kata sifat dan angka, dalam jumlah besar, mirip bahasa Indonesia. Ditinjau dari sudut tatanan bunyi, bahasa kelompok Kadai telah banyak mengalami proses peluluhan fonem (satuan bunyi terkecil) sejak beribu tahun lampau. Sebagai akibatnya, para linguis mengalami kesulitan dalam merekonstruksi sistem bunyi bahasa-bahasa tersebut dan apalagi jika membandingkannya dengan bahasa-bahasa lain.

Bahasa Indonesia banyak dipengaruhi oleh bahasa-bahasa daerah. Seperti ungkapan dari buku “Bahasa Menunjukkan Bangsa” bahwa anak kandung bahasa Indonesia, yaitu Melayu lingua franca sedangkan anak kemenakannya adalah bahasa-bahasa daerah. Contohnya adalah frase Lengser keprabon (yang sekarang sudah dianggap bahasa Indonesia, seperti dengan kata lain seperti “legawa”) harus dipahami dalam perspektif sejarah kebudayaan dan sistem politik Jawa. Oleh karena itu dengan mempelajari aspek psikologis budaya Jawa, penutur asing dapat memahami makna sebenarnya kata “Lengser Keprabon”.

Perlu diketahui bahwa sebelum semua orang yang mengaku dirinya “Indonesia” memakai bahasa Indonesia, orang-orang Cina yang memakai bahasa Melayu pasar (yang kemudian dengan sewenang-wenang diambil alih oleh kaum nasionalis Indonesia menjadi bahasa kebangsaan) sebagai bahasa pengantar dan bahasa komunikasi mereka. Koran-koran bahasa Melayu pasar pada akhir abad ke-18 dan karya sastra yang diterbitkan Orang Cina peranakan. Bisa dikatakan, kalau dilihat dari segi ini, Indonesia pertama-tama dibentuk oleh orang-orang keturunan Cina yang biasa disebut kaum diaspora, membentuk kebudayaan sendiri, yang berbeda dengan kebudayaan leluhurnya sekaligus tidak sama dengan kebudayaan di negeri di mana dia tinggal. Kebudayaan ini menghubungkan keturunan Cina di Bandung, Banjarmasin, Medan, Makasar, dll. Kebudayaan yang sama pula dipakai oleh “pribumi” yang terpecah-pecah dan berbeda-beda ini untuk menyatukan dirinya. Dalam perjalanan selanjutnya, pendiri kebudayaan ini justru disingkirkan dan mengalami diskriminasi dalam segala bidang.

Musik Dangdut

Musik dangdut adalah musik masyarakat Indonesia. Musik ini dapat digunakan untuk menyatukan masyarakat Indonesia dari semua kalangan. Namun, perlu Anda ketahui sebenarnya musik dangdut ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Seperti layaknya musik klasik, musik dangdut tidak mudah untuk dinyanyikan. Dengan cengkok yang khas semua orang pasti langsung tahu bahwa itu adalah musik dangdut, tetapi itu tidak berarti semua orang mampu menyanyikan dangdut dengan gaya cengkoknya.

Pada awalnya, yang mendasari musik klasik India adalah empat tradisi kitab Veda: (1) Reg Veda, dengan tiga nada. (2) Yayur Veda, lima nada. (3) Sama Veda, tujuh nada, dan (4) Atharva Veda. Berdasarkan kitab-kitab inilah lahirlah apa yang dinamakan dengan Musik Vedik yang merupakan latar belakang sejarah musik klasik yang telah ada di India semenjak tahun 1500 tahun sebelum masehi. Dari turunan musik India itulah kemudian muncul musik gendang Tabelar, yang merupakan kepanjangan tangan India dalam menebar pengaruh di Indonesia, kali ini dalam ranah musik. Akulturasi dan kolaborasi musik India dengan musik Melayu melahirkan sebuah aliran musik baru, yaitu dangdut.
Dalam perkembangannya, dangdut tidak hanya berumpun Melayu saja, adat-budaya suku lain di Indonesia pun ikut mewarnai corak musik dangdut. Sebut saja campur sari ala Jawa, atau dangdut Parahyangan versi Sunda, atau dangdut poco-poco asal Ambon, dan lainnya.

Bentuk musik ini berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Dangdut diilhami dari nama musik gendang India bernama Tabelar, sejenis drum dari India Utara yang banyak diperagakan dalam ilustrasi film dan bisa berbunyi ‘dut’. Budaya dari negeri India memang banyak yang ikut menyulam pengaruh ke dalam budaya Indonesia.

Orkes Melayu (biasa disingkat OM, sebutan yang masih sering dipakai untuk suatu grup musik dangdut) yang asli menggunakan alat musik seperti gitar akustik, akordeon, rebana, gambus, dan suling, bahkan gong. Pada tahun 1950-an dan 1960-an banyak berkembang orkes-orkes Melayu di Jakarta yang memainkan lagu-lagu Melayu Deli dari Sumatera (sekitar Medan). Pada masa ini mulai masuk eksperimen masuknya unsur India dalam musik Melayu. Dangdut modern, yang berkembang pada awal tahun 1970-an sejalan dengan politik Indonesia yang ramah terhadap budaya Barat, memasukkan alat-alat musik modern Barat seperti gitar listrik, organ elektrik, perkusi, terompet, saksofon, obo, dan lain-lain untuk meningkatkan variasi dan sebagai lahan kreativitas pemusik-pemusiknya. Mandolin juga masuk sebagai unsur penting. Pengaruh rock (terutama pada permainan gitar) sangat kental terasa pada musik dangdut. Selain penggunaan alat musik dari bermacam-macam daerah, pengaruh gaya musik lain dalam dangdut menyebabkan dangdut dapat diterima segala lapisan masyarakat.

Puskesmas

Dalam bidang kesehatan kemajemukan dan perbedaan yang ada dapat membentuk suatu kesatuan melalui adanya fasilitas-fasilitas kesehatan yang dapat dipakai oleh seluruh masyarakat.

Puskesmas memiliki suatu program kerja yang melibatkan elemen masyarakat. UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) dikembangkan oleh Puskesmas dengan tujuan mengajak setiap elemen masyarakat dari segala usia, latarbelakang pendidikan, pekerjaan, budaya, dan agama untuk berperan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam UKBM adalah:

· Ibu-ibu anggota PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) atau organisasi wanita lainnya untuk menumbuh-kembangkan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dan Polindes (Pondok Bersalin Desa).

· Organisasi remaja untuk mengembangkan SBH (Saka Bakti Husada) di lingkungan pramuka, Santi Husada, dan poskestren (pos kesehatan pesantren) di lingkungan pondok pesantren.

· Kelompok pekerja untuk menumbuh-kembangkan Pos UKK (Upaya Kesehatan Kerja).

· Kelompok lanjut usia (lansia) untuk menumbuh-kembangkan posbindu lansia (Pos Pembinaan Terpadu Lansia).

Tujuan dari pembentukan UKBM ini adalah agar masyarakat dipandang sebagai subjek pembangunan kesehatan, sehingga Puskesmas bukan hanya bekerja untuk mereka tetapi juga bekerja bersama masyarakat.

Apa yang Dapat Disimpulkan?

Peringatan hari Sumpah Pemuda dapat mengingatkan kita kembali bahwa Indonesia merupakan suatu bangsa bukan hanya suatu Negara. Pendapat Anderson mengenai Indonesia dalam konsep nation state sebagai imajinasi jelas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia bisa tetap hidup hanya dengan mengakui adanya kemajemukan dan perbedaan di dalamnya. Pernyataan Anderson ini hendaknya jangan disalahartikan dengan menggunakan konsep nasionalisme yang sempit. Konsep nasionalisme adalah baik. Namun, jangan sampai konsep ini menjadi suatu cara untuk menghilangkan sejarah dan kebudayaan lokal yang membangunnya.

Written by: Catherine Maname Uli

 

Daftar Pustaka:

  1. Alif Danya Munsyi. 2005. Bahasa Menunjukkan Bangsa. Jakarta: KPG.
  2. Indonesia: Bangsa Sebuah “Imagined Communities”. 2007. Available from the URL: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=2745.
  3. Kacamatamu dan Kacamataku: Menguji Teori Secara Pragmatis. Available from the URL: http://kunci.or.id/esai/nws/09/martin_teori.htm.
  4. Pendekatan Silang Budaya sebagai Pencitraan Budaya IndonesiaMelalui Pengajaran BIPA. Available from the URL: www.ialf.edu/kipbipa/papers/ArifBudiWurianto.doc.
  5. Menguak Tabir Hubungan Bahasa Thai-Kadai dengan Bahasa Indonesia. Available from the URL: http://www.unhas.ac.id/index.php?menu=isi_berita&id=398.
  6. Dangdut. Available from the URL: http://id.wikipedia.org/wiki/Dangdut
  7. Ternyata Dangdut dari India. 2008. Available from the URL: http://jemaridewa.blogspot.com/2008/01/ternyata-dangdut-asalnya-dari-india.html.
  8. Trihono. 2002. ARRIME Pedoman Manajemen Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: